Berita  

Ibu-ibu Pedagang Asongan Mengamuk TNI AL dan ABK di KM Nggapulu

AMBON — Suasana di atas kapal Pelni KM Nggapulu mendadak ricuh pada Selasa, 7 Oktober 2025, setelah sekelompok ibu-ibu pedagang asongan meluapkan kemarahan mereka di dalam kapal yang sedang berada di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Maluku. Insiden itu terekam dan kemudian viral di media sosial, memperlihatkan para pedagang melemparkan dagangan berupa makanan, minuman, dan camilan ke lantai kapal.

Razia Pedagang Picu Keributan

Keributan bermula ketika petugas keamanan bersama pihak pengelola Pelni melakukan penertiban terhadap pedagang asongan yang berjualan di atas kapal. Larangan berjualan di area kapal maupun pelabuhan menjadi pemicu utama protes para pedagang, yang merasa keberatan dengan tindakan petugas. Situasi yang semula berupa teguran berubah cepat menjadi adu mulut, lalu memanas hingga terjadi aksi kejar-kejaran di dalam kapal.

Penumpang yang berada di sekitar lokasi ikut menyaksikan langsung ketegangan itu. Dagangan yang semula dibawa untuk dijajakan justru berserakan di lantai kapal saat emosi para pedagang tak lagi tertahan. Keributan tersebut membuat aktivitas di dalam KM Nggapulu terganggu dan menarik perhatian banyak orang di pelabuhan.

Polisi Benarkan Kejadian

Kapolsek Kawasan Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Iptu Arie Satria, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa keributan terjadi saat razia dilakukan terhadap pedagang asongan yang nekat berjualan di atas kapal. Dalam proses penertiban itu, petugas juga menyita barang dagangan yang dibawa para pedagang.

Menurut Arie, aturan yang melarang aktivitas jual beli di area kapal maupun pelabuhan diberlakukan untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Namun, penegakan aturan di lapangan kerap memicu penolakan ketika menyangkut mata pencarian para pedagang kecil. Dalam kasus di KM Nggapulu, benturan antara aturan dan kebutuhan ekonomi itu berujung pada insiden yang kini ramai dibicarakan warganet.

Situasi Pelabuhan Jadi Sorotan

Peristiwa ini kembali menyorot persoalan klasik di pelabuhan, terutama soal keberadaan pedagang asongan yang kerap memanfaatkan arus penumpang kapal. Di satu sisi, mereka menggantungkan hidup dari penjualan harian. Di sisi lain, pengelola dan aparat keamanan berkewajiban menegakkan aturan yang melarang aktivitas perdagangan di area kapal.

Insiden di KM Nggapulu menunjukkan betapa cepatnya ketegangan bisa muncul ketika penertiban dilakukan tanpa ruang kompromi yang memadai. Hingga kejadian itu viral, perhatian publik pun tertuju pada cara penanganan pedagang asongan di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon yang selama ini kerap berada di wilayah abu-abu antara kebutuhan ekonomi dan aturan pelayaran.