Upaya pencarian korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik di dasar Laut Jawa masih menghadapi hambatan serius. Basarnas menyebut sedikitnya enam risiko membuat penyelam belum dapat menjangkau seluruh bagian kapal.
Hingga Senin, 28 September 2026, sebanyak 71 korban masih dicari, sementara 64 orang dilaporkan meninggal dunia. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana, mengatakan kondisi kapal dan lingkungan di sekitarnya membuat operasi penyelaman harus dilakukan dengan sangat terbatas.
Posisi kapal terus berubah
Risiko utama berasal dari perubahan trim atau derajat kemiringan badan kapal. Posisi kapal yang terus berubah dapat memicu pergeseran stabilitas secara tiba-tiba ketika penyelam berada di dalamnya.
“Kendala yang pertama yaitu masih terjadi perubahan trim atau derajat kemiringan pada kapal. Jadi, kapal ini terus berubah kemiringannya dan ini berpotensi risiko tinggi bagi penyelam apabila sewaktu-waktu stabilitasnya itu tiba-tiba berubah total, nah ini ya pasti keselamatan penyelam itu terancam,” ujar Sudayana, dikutip Senin.
Bahaya tersebut tidak hanya muncul saat penyelam berada di sekitar badan kapal. Ketika penyelam mencoba masuk hingga sekitar 15 meter ke bagian dalam, stabilitas kapal kembali mengalami perubahan. Kondisi itu membuat mereka harus meningkatkan kewaspadaan dan tidak bisa bebas menjelajahi seluruh ruangan.
Jarak pandang dan bahan berbahaya membatasi pencarian
Kendala berikutnya adalah jarak pandang yang sangat rendah. Sedimen dan lumpur mulai masuk ke dalam kapal sehingga penyelam kesulitan mengenali kondisi di sekelilingnya. Di tengah visibilitas yang terbatas, keberadaan benda-benda tajam di dalam kapal meningkatkan risiko cedera.
Tim juga menghadapi kemungkinan paparan bahan kimia dari kendaraan yang berada di dalam kapal. Sebagian bahan bakar minyak atau BBM kendaraan diduga telah tumpah. Area yang mengeluarkan bahan kimia tersebut tidak dapat dimasuki penyelam karena berisiko terhadap keselamatan.
“Di sana ada kendaraan, nah ini kendaraan-kendaraan ini sudah apa, BBM-nya itu sudah mulai ada yang keluar ya. Nah inilah yang membuat risiko juga bagi penyelam, keselamatannya. Ini tidak berani untuk melaksanakan penyelaman di area-area yang memang sudah mengeluarkan chemical itu,” kata Sudayana.
Hambatan lain muncul pada kedalaman sekitar 27 meter, ketika penyelam menghadapi kondisi gas density. Faktor tersebut membuat durasi mereka berada di bawah air harus dibatasi. Penggunaan satu maupun dua tabung tidak dapat dimaksimalkan karena waktu penyelaman paling lama hanya sekitar 20 menit.
“Misalnya menggunakan dua tabung atau satu tabung tidak bisa maksimal untuk digunakan, hanya paling lama itu dia bisa 20 menit ya. Karena pengaruh gas atau apa namanya ini, gas density yang disampaikan oleh OSC selam ya,” ujar Sudayana.
Gabungan perubahan kemiringan kapal, pergeseran stabilitas di bagian dalam, jarak pandang terbatas, benda tajam, potensi tumpahan BBM, serta kondisi gas di kedalaman membuat penyelam belum dapat menyisir seluruh bagian KM Virgo Transport 8.












