Departemen Luar Negeri Amerika Serikat meminta warganya mempertimbangkan kembali perjalanan ke atau melalui Timur Tengah karena konflik militer dengan Iran dinilai dapat memburuk dalam waktu cepat. Peringatan itu disampaikan ketika ketegangan di kawasan meningkat, termasuk setelah klaim kelompok Houthi mengenai serangan terhadap sejumlah lokasi sensitif di Riyadh, Arab Saudi.
“Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat. Warga Amerika yang berada di luar Timur Tengah harus mempertimbangkan dengan serius rencana perjalanan ke atau melalui kawasan tersebut,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam unggahan di X pada Sabtu malam waktu setempat. Pernyataan itu dikutip dari CNBC Internasional pada Senin, 21 September 2026.
Peringatan bagi warga AS di kawasan
Warga negara AS yang sudah berada di Timur Tengah diminta meningkatkan kewaspadaan. Mereka juga diingatkan mengenai kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, serta gangguan perjalanan lain yang dapat terjadi akibat perkembangan konflik.
Kedutaan Besar AS di sejumlah negara di Timur Tengah turut mengeluarkan peringatan keamanan. Langkah itu diambil menyusul meningkatnya ketegangan dan potensi eskalasi yang tidak terduga di kawasan tersebut.
Peringatan keamanan itu muncul setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi terhadap Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir. Kelompok pemberontak yang didukung Iran dan berbasis di Yaman tersebut dilaporkan melancarkan serangan darat secara cepat di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis di mulut Laut Merah yang menjadi salah satu titik penting lalu lintas minyak.
Dalam rangkaian serangan itu, Houthi dilaporkan merebut Mokha dan sejumlah pulau di sekitarnya. Pada Sabtu, kelompok tersebut juga mengklaim telah menyerang beberapa lokasi sensitif di Riyadh menggunakan rudal dan drone.
Klaim serangan di Riyadh
Klaim Houthi disampaikan beberapa jam setelah kobaran api dan kepulan asap besar terlihat di sekitar bandara utama Riyadh. Hingga laporan tersebut disusun, otoritas setempat belum menyebutkan penyebab kejadian itu.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News pada Minggu bahwa ia terus berkomunikasi dengan Houthi setelah serangan terhadap Arab Saudi. Trump mengklaim kelompok yang didukung Iran itu telah sepakat untuk tidak menyerang Amerika Serikat.
Trump juga menyatakan masih menentukan sikap terkait perang dengan Iran. Ia mengatakan sedang mempertimbangkan apakah akan menghancurkan Iran atau tidak, bergantung pada sikap negara tersebut. Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi mengenai pernyataan itu.
Rencana penjualan jet tempur
Di tengah ketegangan tersebut, pemerintahan Trump pada pekan sebelumnya menyetujui rencana penjualan hampir 50 jet tempur F-35 kepada Arab Saudi. Nilai potensial transaksi itu mencapai US$24,3 miliar dan dipandang sebagai dukungan besar bagi kerajaan tersebut.












