Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang dua sasaran penting di Arab Saudi menggunakan rudal balistik, drone, dan rudal jelajah. Pernyataan itu disampaikan juru bicara Houthi, Yahya Saree, ketika ketegangan antara kelompok tersebut dan Riyadh kembali meningkat.
Serangan itu disebut menyasar kawasan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta fasilitas minyak Saudi Aramco di Yanbu. Sejumlah video yang beredar di media sosial tampaknya memperlihatkan kepulan asap dari sekitar bandara dan fasilitas minyak tersebut. Namun, sumber dalam laporan itu tidak menyebutkan rincian mengenai kerusakan maupun korban akibat serangan.
Houthi Kembali Gunakan Rudal Jelajah
Penggunaan rudal jelajah dalam serangan terbaru ini menjadi perhatian karena merupakan kali pertama dalam beberapa bulan terakhir Houthi kembali mengandalkan jenis senjata tersebut. Serangan itu juga disebut berlangsung di tengah peningkatan aksi militer Houthi yang dilakukan secara rutin setiap pekan.
Sebelumnya, kelompok yang juga dikenal sebagai Ansar Allah itu telah menyatakan akan menargetkan fasilitas minyak Aramco, yang mereka sebut sebagai salah satu aset paling penting Arab Saudi. Serangan terbaru tersebut dipandang sebagai upaya untuk merealisasikan ancaman itu melalui sasaran-sasaran strategis yang memiliki arti penting bagi Riyadh.
Houthi menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas serangan udara Arab Saudi ke sejumlah wilayah di Yaman. Kelompok itu juga menuding Riyadh menyebarkan kebohongan dan propaganda, termasuk tuduhan bahwa Ansar Allah menargetkan Kota Suci Mekkah.
Pemimpin Ansar Allah, Abdel-Malik al-Houthi, sebelumnya mengatakan Arab Saudi akan dimintai pertanggungjawaban atas tudingan tersebut. Ia menegaskan kelompoknya memiliki hak untuk merespons. Pernyataan itu kemudian diikuti peningkatan serangan yang melibatkan rudal, drone, dan rudal balistik ke wilayah Arab Saudi.
Riyadh Disebut Siapkan Respons Terkoordinasi
Di tengah klaim serangan Houthi, Arab Saudi dan negara-negara sekutunya disebut sedang menyiapkan balasan militer. Peneliti senior King’s College London, Nawaf Obaid, mengatakan respons tersebut kemungkinan dilakukan secara terkoordinasi untuk menghadapi serangkaian serangan terbaru.
Menurut Obaid, posisi Riyadh tidak sesendirian seperti yang terlihat. Ia menyebut telah terbentuk koalisi yang mulai membahas ancaman Houthi sekaligus menentukan bentuk respons yang dianggap tepat.
“Ada koalisi yang mulai terbentuk untuk menghadapi ancaman tersebut dan menentukan respons yang tepat terhadap apa yang telah dilakukan Houthi,” kata Obaid kepada Al Jazeera.
Obaid mengatakan respons militer itu akan segera datang. Perkembangan tersebut membuka kemungkinan meningkatnya kembali aksi saling serang antara Arab Saudi dan Houthi, terutama setelah kelompok asal Yaman itu memperluas penggunaan senjata dan mengarahkan serangan ke fasilitas strategis milik Riyadh.












