Berita  

Iran Ubah Doktrin Militer: Bertahan ke Menyerang

Iran Ubah Doktrin Militer Menjadi Siap Menyerang Setelah Konflik dengan AS dan Israel

Perubahan Doktrin Militer Iran

Jakarta, VIVA – Konflik terbaru antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mendorong Iran untuk mengubah doktrin militer negaranya. Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, juru bicara Angkatan Darat Iran, menyatakan bahwa negara mereka sebelumnya mengadopsi sikap bertahan, namun dalam konflik terakhir ini, mereka beralih menjadi siap menyerang.

Akraminia menjelaskan bahwa doktrin militer baru Iran tidak hanya mencakup operasi pencegahan, tetapi juga respons cepat dan berskala besar terhadap setiap agresi musuh. Perubahan ini merupakan bentuk adaptasi Iran terhadap dinamika konflik di kawasan tersebut.

Gencatan Senjata yang Gagal

Pada bulan Juni, Teheran dan Washington sepakat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak bulan Februari. Namun, gencatan senjata tersebut gagal setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran pada bulan Juli. Serangkaian serangan ini kemudian memicu respons dari Iran dengan menyerang pangkalan AS di wilayah Timur Tengah.

Situasi semakin memanas ketika Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap intervensi AS di kawasan tersebut. Trump kemudian mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan balasan. Konflik antara Iran, AS, dan Israel terus berlanjut dengan saling serang dan balas di wilayah tersebut.

Upaya Diplomasi Gagal

Pada upaya terakhir untuk mengatasi konflik tersebut, AS meluncurkan operasi ekonomi besar-besaran terhadap Iran. Meskipun demikian, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut operasi tersebut hanya sebagai upaya AS untuk mengalihkan perhatian dari krisis internal yang mereka hadapi.

Situasi di Timur Tengah semakin tegang dengan adanya perubahan doktrin militer Iran dan perseteruan terus berlanjut antara Iran, AS, dan Israel. Tidak ada tanda-tanda damai dalam waktu dekat, dan kawasan tersebut tetap menjadi sorotan dunia internasional.

Source link