Iran Siap Hadapi Ancaman Serangan dengan Pelatihan Militer
VIVA – Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 lalu, memberikan gambaran langsung tentang kesiapan rakyat Iran dalam menghadapi potensi ancaman di masa mendatang. Hal ini terjadi di tengah proses negosiasi damai Teheran dan Washington yang masih buntu.
Mempersiapkan Masyarakat Iran untuk Kemungkinan Berperang
Kota ini terhindar dari serangan tanpa henti sejak gencatan senjata pada 8 April, menghentikan hampir 40 hari perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, kekhawatiran akan dimulainya pertempuran kembali tetap ada, sehingga pihak berwenang mendirikan pos pelatihan militer di seluruh Teheran.
Pos pelatihan tersebut mengajarkan dasar-dasar penanganan senjata kepada masyarakat, dengan tujuan mempersiapkan mereka untuk kemungkinan berperang. Hal ini direspons luar biasa oleh masyarakat Iran, baik perempuan maupun laki-laki, yang secara sukarela turut serta dalam pelatihan tersebut.
Menyokong Budaya Mati Syahid dan Memperkokoh Persiapan Militer
Prajurit Garda Revolusi, Nasser Sadeghi, menyatakan bahwa sesi pelatihan yang dijalankan lebih dari dua minggu lalu bertujuan untuk mempromosikan budaya mati syahid dan membalas darah pemimpin. Para peserta pelatihan berasal dari berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang militer yang beragam.
Hingga saat ini, pelatihan hanya mencakup penggunaan senapan serbu, tetapi rencananya akan memperluas pelatihan dengan senjata lainnya dalam beberapa hari mendatang, tergantung pada otoritas yang lebih tinggi. Bahkan, wanita dan anak-anak pun ikut serta dalam pelatihan tersebut sebagai bentuk persiapan terhadap kemungkinan ancaman masa depan.












