Kondisi kehidupan warga di Kampung Jengok Desa Wae Jare, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur sangat memprihatinkan, karena terlantar tanpa akses jalan, jembatan, listrik, dan air bersih. Satu-satunya akses ke daerah lain adalah melalui jembatan bambu darurat yang dibangun oleh warga sendiri. Namun, saat musim hujan, kondisi jembatan ini semakin berbahaya dan berisiko bagi keselamatan anak-anak sekolah dan petani yang menggunakan jembatan tersebut.
Meskipun Kampung Jengok hanya berjarak sekitar 40 kilometer dari Labuan Bajo, namun kondisi infrastrukturnya sangat terlantar. Jembatan yang menghubungkan Jengok dan Kampung Tuwa dibangun pada era 1990-an dan sering mengalami perbaikan. Selain itu, Kampung Jengok juga menghadapi masalah kegelapan di malam hari karena tidak ada penerangan listrik, yang membuat aktivitas warga terbatas.
Masalah lain yang dihadapi warga Kampung Jengok adalah akses air bersih yang masih mengandalkan sungai Wae Jare, yang rawan terhadap penyakit. Meskipun sudah banyak janji-janji sebelumnya, termasuk dari caleg dan tim sukses pilkada, untuk memperbaiki infrastruktur di kampung mereka, namun hingga kini belum ada yang terealisasi.
Warga Kampung Jengok berharap pemberitaan media dapat membantu mereka dalam memperbaiki kondisi infrastruktur desa mereka, terutama jembatan bambu yang menjadi akses utama mereka. Semoga dengan perhatian dari pihak berwenang, Kampung Jengok dapat mendapatkan akses yang lebih layak dan aman.












