Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri, Komisaris Jenderal Polisi Chryshnanda Dwilaksana memberikan pesan yang menggetarkan bagi seluruh anggota Polri. Menurutnya, polisi seharusnya tidak menakutkan, namun lebih kepada dicintai oleh rakyat. Dalam sebuah pernyataan, Chryshnanda menekankan pentingnya manfaat dalam menjadi seorang polisi. Ia juga menegaskan bahwa menjadi polisi memiliki batas-batas tertentu, sementara menjadi bagian dari rakyat tidak memiliki batasan. Oleh karena itu, setiap anggota polisi diminta untuk berhenti bersikap arogan, berhenti berbohong, dan tidak menyakiti masyarakat. Sebaliknya, mereka diminta untuk hadir dengan ketulusan, empati, dan integritas.
Chryshnanda juga menekankan pentingnya kepercayaan masyarakat yang hanya dapat diraih melalui sikap rendah hati, kejujuran, dan kepedulian. Ia mempertegas bahwa kepercayaan tidak datang dari pangkat atau kekuasaan, namun dari perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya. Pendidikan di lingkungan Polri juga dianggap penting untuk menanamkan moral, etika, dan spiritualitas agar melahirkan polisi yang berintegritas, humanis, dan dekat dengan masyarakat. Chryshnanda menutup pesannya dengan menegaskan bahwa Polri harus terus berbenah dan hadir bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dicintai oleh rakyat, yang hanya dapat terwujud apabila bekerja dengan hati dan nurani.
Langkah besar dilakukan oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dengan membentuk Tim Transformasi Reformasi Polri yang beranggotakan 52 perwira. Tim tersebut dipimpin oleh Komisaris Jenderal Polisi Chryshnanda Dwilaksana, dengan Wakil Ketua Koorsahli Kapolri, Inspektur Jenderal Polisi Herry Rudolf Nahak, dan Brigadir Jenderal Polisi Susilo Teguh Raharjo. Langkah ini dianggap sebagai responsibilitas dan akuntabilitas atas arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.












