Berita  

Kembalikan Kedaulatan Masyarakat Sipil: Tuntutan untuk Negara






Konferensi Republik: Tuntutan untuk Kembali ke Kedaulatan Masyarakat Sipil

Konferensi Republik: Tuntutan untuk Kembali ke Kedaulatan Masyarakat Sipil

Pada Minggu, 31 Mei 2026, Konferensi Republik yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM) menghasilkan tiga tuntutan penting. Ketiga tuntutan tersebut bertujuan untuk membawa kembali kedaulatan kepada masyarakat sipil, membangun formasi baru republik untuk memulihkan kepercayaan publik, dan menyatukan seluruh kekuatan sipil.

Mandat untuk Sudirman Said dan Yanuar Nugroho

Forum tersebut memberikan mandat kepada Sudirman Said, Ketua Umum Panitia, dan Yanuar Nugroho, Sekretaris Jenderal, untuk melanjutkan proses lanjutan melalui rapat kerja yang harus segera digelar. Sudirman Said menyebut mandat tersebut sebagai momentum penting untuk kembali ke paradigma masyarakat sipil sebagai salah satu pilar utama bernegara. Dia menekankan bahwa masyarakat sipil harus mampu berdiri setara dengan pilar negara lainnya.

Paradigma Baru Masyarakat Sipil

Sudirman menegaskan bahwa secara tradisional, masyarakat sipil sering merasa enggan berhubungan dengan partai politik karena dianggap kurang mulia. Namun, ia menegaskan bahwa partai politiklah tempat di mana keputusan-keputusan dibuat, dan saatnya bagi masyarakat sipil untuk masuk ke paradigma baru dengan lebih percaya diri. Yanuar Nugroho juga menekankan bahwa Konferensi Republik bukanlah sekadar wacana, melainkan ruang pertukaran gagasan yang harus berkembang ke berbagai kota dan komunitas.

Dia menegaskan bahwa forum ini bukan merupakan gerakan politik praktis atau agenda elektoral, tetapi lebih kepada pertukaran gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat sipil. Yanuar juga menyebut bahwa konferensi ini dilaksanakan secara swadaya dengan kolaborasi dari ratusan CSO tanpa sponsor, sebagai bentuk nyata dari semangat gotong royong dan solidaritas untuk republik.

Bhima Yudhistira dari CELIOS menambahkan pentingnya konferensi ini sebagai upaya untuk mengonseptualisasikan gagasan progresif yang selama ini terfragmentasi. Dia mencatat bahwa penting untuk memiliki keluaran konkret seperti Buku Putih yang menggambarkan arah ekonomi pro-rakyat dan pro-lingkungan, sebagai panduan ke depan.

Sumber: VIVA

Source link