Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang sedang berlangsung telah menarik perhatian dunia, termasuk China. Dalam laporan terbarunya mengenai Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Beijing menyalahkan Washington sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kebuntuan diplomatik saat ini. Menurut laporan yang dipublikasikan oleh Kementerian Luar Negeri China, agresi militer AS dan Israel terhadap Iran telah melanggar hukum internasional dan tujuan PBB.
Beijing menilai penarikan AS dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sebagai akar masalah dari kebuntuan diplomatik antara AS dan Iran. Presiden Trump telah menarik AS dari kesepakatan nuklir tersebut selama masa jabatannya dengan alasan ingin mendapatkan perjanjian yang lebih kuat. Serangan terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran oleh AS dan Israel pada Juni 2025 dan 28 Februari lalu terjadi saat negosiasi antara Iran dan AS mengenai program nuklir damai sedang berlangsung.
Meskipun AS dan Israel kembali melancarkan serangan pada 28 Februari ketika Iran dan AS hampir mencapai kesepakatan nuklir baru, Iran tetap bersikeras bahwa mereka memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan energi dan riset medis. Negosiasi antara AS dan Iran yang dilakukan di Islamabad pada bulan April tidak menghasilkan kesepakatan apapun setelah 21 jam perundingan. Delegasi AS dikabarkan sedang menuju Islamabad untuk putaran kedua pembicaraan, sementara Iran belum merencanakan untuk kembali berunding.












