Pada Rabu, 25 Maret 2026, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menegaskan bahwa penanganan infrastruktur sungai di tiga provinsi terdampak menjadi salah satu prioritas penanganan jangka panjang dalam fase pemulihan. Hal ini juga akan mendukung irigasi untuk sawah dan tambak warga. Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menekankan pentingnya normalisasi sungai untuk mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor ekonomi primer, seperti pertanian dan perikanan. Data Satgas PRR menunjukkan bahwa sungai terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mayoritas mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
Ada puluhan sungai dengan kondisi bervariasi di wilayah terdampak, mulai dari sedimentasi berat, kerusakan tanggul, hingga perubahan alur sungai. Di Provinsi Aceh, terdapat 55 sungai terdampak yang memerlukan penanganan bertahap. Sementara di Provinsi Sumatera Utara, terdapat 48 sungai terdampak, dan di Sumatera Barat 43 sungai terdampak. Tito menjelaskan bahwa penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu tanggap darurat untuk mengantisipasi dampak lanjutan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memastikan perbaikan permanen.
Meskipun penanganan sungai menjadi prioritas, Satgas PRR tetap memastikan upaya tersebut berjalan bersamaan dengan pemulihan sektor lainnya. Sebagian besar jalan nasional telah kembali fungsional 100 persen dan distribusi logistik tidak lagi terhambat, yang mendukung percepatan perbaikan sungai di berbagai wilayah. Tito menegaskan bahwa kondisi geografis wilayah terdampak yang tersebar menjadi tantangan tersendiri dalam pemulihan sungai, namun upaya terus dilakukan untuk memastikan pemulihan yang optimal.












