Berita  

Kemandirian Eropa di Depan Tantangan AS demi China

Eropa Semakin Merapat ke China di Tengah Ketidakpastian Kebijakan AS Era Trump

Negara-negara Eropa semakin meningkatkan keterlibatan ekonomi dan diplomatis dengan China, terutama dalam konteks ketidakpastian hubungan dengan Amerika Serikat era kebijakan “America First” yang diperkenalkan oleh Presiden AS Donald Trump. Para pengamat kebijakan luar negeri melihat perubahan pendekatan dari Washington sebagai katalisator bagi penyesuaian strategi di ibu kota Eropa. Seiring meningkatnya ketidakpastian trans-Atlantik, beberapa negara Eropa mulai memperkuat hubungan dengan Beijing sebagai mitra alternatif, terutama dalam bidang ekonomi.

Beberapa pemimpin Eropa seperti Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin, Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah melakukan kunjungan resmi ke China dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini dianggap sebagai refleksi dari pergeseran pendekatan Eropa yang lebih fokus pada kepentingan ekonomi dibandingkan retorika sebelumnya mengenai “pemisahan” atau “pengurangan risiko” terhadap China. Meskipun demikian, belum ada indikasi resmi atau penataan ulang geopolitik secara terbuka oleh Uni Eropa.

Kunjungan ke China oleh Keir Starmer selama empat hari menghasilkan sejumlah kesepakatan ekonomi dan pencabutan sanksi Beijing terhadap enam anggota parlemen Inggris. Namun, dalam pertemuan tersebut tidak ada pernyataan publik mengenai isu hak asasi manusia di China atau tentang kasus pengusaha media Hong Kong, Jimmy Lai, yang juga warga negara Inggris. Sejumlah pengamat juga menyoroti peran China sebagai mitra utama Rusia, namun hal tersebut belum menjadi fokus utama kunjungan pemimpin Barat ke Beijing.

Negara-negara Eropa dihadapkan pada dilema dalam menentukan posisi antara Washington dan Beijing, tetapi sebagian pakar menegaskan bahwa pilihan tersebut tidak bersifat biner. Meskipun kunjungan tingkat tinggi tersebut tidak langsung mengubah tatanan global, langkah tersebut dianggap sebagai pertanda penerimaan yang semakin meningkat terhadap China sebagai mitra strategis alternatif. Namun, ketergantungan ekonomi yang semakin dalam terhadap China juga dianggap berpotensi menimbulkan kerentanan baru bagi Eropa dalam jangka panjang. Para pengamat mendorong agar negara-negara Eropa menyusun kebijakan luar negeri yang lebih koheren dan berprinsip untuk menjaga ketahanan strategis di tengah dinamika persaingan global yang terus berkembang.

Source link