Di Maluku, konsep ‘Orang Basudara’ merupakan nilai filosofi yang tidak hanya mengungkapkan persaudaraan, tetapi juga mewariskan semangat hidup yang luhur dari satu generasi ke generasi berikutnya. Masyarakat Maluku hidup dalam keragaman suku, agama, dan budaya, namun mampu menjaga harmoni sosial dengan nilai ini sebagai pondasi utama. Konsep ini mendorong warga untuk memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan bersama. Hal ini tercermin dalam praktik keseharian seperti gotong royong, kebersamaan dalam perayaan keagamaan, serta kepedulian saat bencana melanda.
Maluku disebut sebagai “laboratorium hidup perdamaian” karena mampu merawat rekonsiliasi pascakonflik sosial. Proses penyembuhan tidak hanya melibatkan kebijakan formal, tetapi juga nilai-nilai budaya seperti tradisi pela gandong, yang mengikat desa-desa dengan latar agama yang berbeda dalam hubungan kekeluargaan. Semangat ‘Orang Basudara’ tampak jelas dalam kegiatan publik di Ambon dan sekitarnya, dimana pemuda lintas iman aktif dalam dialog, seni, dan aksi sosial bersama. Pendidikan karakter di sekolah dan kampus pun mulai menyertakan nilai-nilai toleransi sebagai bagian penting.
Dalam era digital, menghadapi arus informasi cepat dan polarisasi yang kerap muncul, menjaga semangat perdamaian menjadi tantangan. Generasi muda didorong untuk memahami warisan leluhur sebagai bagian identitas mereka. Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) menjadi kunci penting untuk mendorong pemahaman dan empati antar sesama, serta untuk menghormati perbedaan sebagai perekat, bukan pemisah. Seminar di Kota Ambon, yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena, menjadi panggilan moral bagi masyarakat Maluku untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kederahan dan persaudaraan, menjadikan ‘Orang Basudara’ sebagai ciri khas hidup yang mengakar kuat dalam bumi rempah.












