Idrus Marham, anggota MPO PB IKA PMII, meminta agar konflik internal yang terjadi di tubuh PBNU segera diselesaikan tanpa dimanfaatkan sebagai ajang konsolidasi kelompok. Menurutnya, gejolak dalam internal PBNU merupakan isyarat bahwa NU semakin menjauh dari nilai kepemilikan bersama yang menjadi landasan dari jam’iyah. Idrus menegaskan bahwa NU tidak boleh dijadikan tempat pertarungan kekuasaan di antara sekelompok elit. Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Said Asrori juga menekankan pentingnya PBNU kembali memegang teguh nilai-nilai musyawarah, transparansi, dan pengabdian kepada warga NU tanpa dijadikan sebagai arena politik internal. Idrus mengingatkan bahwa sejak awal, NU telah dibangun dari pesantren, akar rumput, dan kolektivitas umat, bukan dari politik elite atau organisasi yang hanya mengutamakan kepentingan sesaat. Menurut Idrus Marham, krisis yang terjadi saat ini di PBNU merupakan momen yang tepat bagi NU untuk melakukan introspeksi dan menguatkan identitasnya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berdiri di atas nilai moral, bukan sebagai panggung politik elit. Idrus juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik internal secara transparan dan rekonsiliasi agar PBNU tetap menjadi rumah besar umat, bukan tempat untuk merebut kekuasaan. Gus Ipul, Sekretaris Jenderal PBNU, juga menyatakan bahwa isu pemakzulan KH Yahya Cholil Staquf akan diselesaikan secara internal oleh para ulama, serta meminta masyarakat dan keluarga besar NU untuk bersabar menunggu keputusan dari para ulama.
NU Milik Rakyat: Rumah Besar Umat yang Penuh Makna
Read Also
Recommendation for You

Identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Makassar telah selesai dilakukan oleh Tim Disaster Victim…

Pada Sabtu, 24 Januari 2026, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali melakukan mutasi jabatan terhadap…

Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa tugas seorang pemimpin adalah bekerja keras agar orang-orang miskin…









