Pernikahan biasanya diidentikkan dengan kebahagiaan karena cinta. Namun, bagi sebagian orang tidak semua pernikahan lahir dari cinta. Salah satunya bisa disebabkan karena adanya tekanan sosial atas orientasi seksualnya, sehingga pernikahan dijadikan “jalan aman” untuk menutupi jati dirinya. Fenomena ini dikenal dengan istilah lavender marriage. Istilah lavender marriage merujuk pada sebuah pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang dijalani bukan atas dasar cinta, melainkan sebagai upaya untuk menutupi orientasi seksual yang sebenarnya. Fenomena ini biasanya terjadi ketika salah satu atau kedua pasangan menghadapi tekanan sosial, budaya, agama, maupun ekspektasi keluarga terkait tidak diterimanya orientasi seksual yang mereka miliki, yakni non-heteroseksual (penyuka sesama jenis), seperti homoseksual. Namun di sisi lain, lavender marriage nyatanya memiliki dampak negatif terhadap kondisi psikologis individu yang menjalaninya. Walaupun lavender marriage ini dianggap sebagai jalan untuk memberikan rasa aman dari berbagai tekanan dalam jangka pendek, tanpa disadari ada dampak jangka panjang yang buruk bagi kesehatan mental pasangan ini. 1. Kecemasan, stres, dan depresi Menyembunyikan jati diri secara terus-menerus akan menyebabkan perasaan yang terisolasi, kesepian, kesedihan, hingga putus asa. Sehingga, bisa menyebabkan terjadinya stres kronis, kecemasan, hingga depresi. 2. Rendahnya harga diri dan hilangnya identitas Terpaksa menyembunyikan jari diri sebenarnya untuk memenuhi ekspektasi sosial, dapat menyebabkan terjadinya konflik identitas atau hilangnya jati diri dan rendahnya harga diri. Individu akan merasa tidak yakin untuk menerima diri sendiri dan perasaan hidup dalam kebohongan. 3. Masalah dalam hubungan dan keintiman Hubungan yang didasari tanpa cinta akan membuat kurangnya keintiman dan emosional antar pasangan. Maka dari itu, mereka bisa mengalami kekosongan emosional, serta merasa frustasi dan benci terhadap pasangan. Pernikahan ini pun akhirnya hanya menyebabkan konflik dan tidak bahagia. 4. Sering menyakiti diri sendiri Seseorang yang mengalami tekanan ini, akhirnya akan mengalihkan rasa sakitnya kepada hal-hal negatif, seperti banyak minum alkohol, menggunakan narkoba, ataupun hal negatif lainnya yang membantu mereka meredam emosi. 5. Trauma dan mengalami gejala mirip PTSD Perasaan tertekan melakukan lavender marriage juga bisa menyebabkan individu merasa trauma. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan gejala yang mirip dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), seperti disosiasi yang merupakan perasaan terpisah dari diri sendiri ataupun lingkungan sekitar, waspada yang berlebih, ataupun mati rasa emosional. Sebelum akhirnya pasangan non-heteroseksual melakukan lavender marriage, ada beberapa faktor yang mendorong individu memilih pernikahan jenis ini, antara lain: 1. Tekanan sosial dan budaya Dalam beberapa budaya, mempunyai orientasi non-heteroseksual akan memicu diskriminasi karena dianggap tidak normal. Oleh sebab itu, mereka akan terdorong untuk mengikuti norma sosial yang berlaku agar terhindar dari diskriminasi tersebut dan melakukan lavender marriage sebagai solusi bagi permasalahan tersebut. 2. Menjaga karir dan citra yang telah dibangun Pernikahan heteroseksual ini dianggap mampu untuk melindungi reputasi mereka, terutama bagi tokoh publik. 3. Agama dan keyakinan Beberapa agama melarang keras atas hubungan sesama jenis. Sehingga bagi mereka yang menganut agama dengan aturan tersebut, melakukan lavender marriage untuk menjaga identitas aslinya. 4. Keinginan untuk berkeluarga Meskipun mempunyai orientasi non-heteroseksual, beberapa diantara mereka tetap ingin memiliki keluarga dengan pasangan berbeda jenis. Hingga akhirnya mereka menjalani lavender marriage walaupun hubungannya kurang romantis. 5. Keamanan finansial dan sosial Pernikahan heteroseksual dinilai dapat memberikan keamanan secara finansial ataupun sosial, yang biasanya tidak dapat dirasakan bagi pasangan sesama jenis. 6. Perlindungan diri dari hukum dan sorotan publik Di beberapa wilayah, menjalin pasangan sesama jenis secara terang-terangan dapat menyebabkan persekusi hukum dan menjadi sorotan publik. Untuk melindungi privasi dan diri pribadi, mereka lebih memilih untuk menjalani pernikahan lavender. Perlu diketahui, istilah lavender marriage pertama kali muncul pada awal abad ke-20 di Hollywood. Homoseksualitas dianggap tabu bahkan ilegal di banyak negara. Beberapa selebritas atau tokoh publik yang memiliki non-heteroseksual, memilih pernikahan ini untuk menjaga karier dan citranya, serta menghindari diskriminasi. Namun, pernikahan yang dijalani hanya karena alasan sosial atau karier, umumnya tidak bertahan lama dan berakhir dengan hubungan toxic hingga perceraian. – Pewarta: Putri Atika ChairuliaEditor: SuryantoCopyright © ANTARA 2025
Dilaporkan: Dampak Psikologis Lavender Marriage
Read Also
Recommendation for You

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai bahwa libur Imlek yang berdekatan dengan bulan Ramadhan di…

Rambut merupakan bagian dari penampilan seseorang dan seringkali disebut sebagai mahkota. Namun, rambut yang terlihat…

Generasi yang tumbuh pada era 80-90an pasti memiliki kenangan manis tentang jajan dingin yang sering…

Gangguan pencernaan seperti GERD dapat dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup sehari-hari. GERD, atau…

Musim hujan sering kali membawa berbagai tantangan dalam perawatan pakaian sehari-hari. Hujan yang terus-menerus bisa…







