BOGOR — Jepang menyatakan kesiapan mendukung sejumlah program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu agenda utama di awal masa pemerintahannya. Dukungan itu disampaikan dalam pertemuan Prabowo dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba di Istana Bogor, Jawa Barat, yang kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers bersama.
Jepang Siap Berbagi Pengalaman 80 Tahun
Prabowo mengatakan Jepang memiliki pengalaman panjang, sekitar 80 tahun, dalam menjalankan program makanan bergizi gratis. Karena itu, Jepang disebut tertarik membantu Indonesia, terutama dalam aspek pelatihan dan penguatan pelaksanaannya di lapangan.
Menurut Prabowo, kerja sama yang ditawarkan Jepang tidak berhenti pada program makan bergizi saja. Negeri Sakura juga membuka peluang kolaborasi di sektor pangan, industri, dan maritim, tiga bidang yang dinilai strategis bagi Indonesia.
Asia Tenggara Jadi Pusat Perhatian Jepang
Dalam pernyataannya, Ishiba menegaskan bahwa Asia Tenggara kini menjadi kawasan dengan perkembangan ekonomi yang stabil dan berperan sebagai pusat pertumbuhan dunia. Atas dasar itu, Jepang ingin memperkuat hubungan dengan negara-negara di kawasan ini, dengan Indonesia sebagai mitra utama.
Ishiba juga menyampaikan dukungan terhadap keinginan besar Prabowo untuk menyediakan makan siang yang sangat bergizi bagi anak-anak Indonesia. Bentuk dukungan yang disiapkan mencakup paket kerja sama berupa pelatihan bagi penyedia makan siang sekolah, pengiriman tenaga ahli, serta bantuan untuk meningkatkan sektor perikanan dan pertanian dengan memanfaatkan pengalaman Jepang.
Arah Kerja Sama ke Depan
Pernyataan kedua pemimpin itu menandai pembukaan babak baru hubungan Indonesia dan Jepang, terutama dalam kerja sama yang bersifat praktis dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Di satu sisi, Indonesia mendorong penguatan program sosial dan pangan. Di sisi lain, Jepang melihat peluang memperluas kemitraan di kawasan yang tengah tumbuh pesat.
Dengan titik temu pada isu pangan, pelatihan, dan pengembangan sektor strategis, pertemuan di Istana Bogor memberi sinyal bahwa hubungan kedua negara akan bergerak ke arah yang lebih konkret, bukan sekadar diplomasi seremonial.


