BMKG Luncurkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Atasi Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Persoalan debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai ditangani oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan meluncurkan operasi modifikasi cuaca. Debu vulkanik yang tersebar di sejumlah wilayah diharapkan dapat dikurangi dalam rentang waktu satu hingga dua hari.
Metode Modifikasi Cuaca oleh BMKG
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan menggunakan dua metode yang disesuaikan dengan kondisi awan di atmosfer. Metode pertama dilakukan ketika belum terdapat awan, di mana pesawat akan menyemprotkan bahan ke atmosfer untuk membantu menurunkan partikel debu vulkanik. Bahan yang disemprotkan berupa air yang dicampur surfaktan, berfungsi sebagai bahan pengikat debu sehingga partikel vulkanik dapat lebih cepat jatuh.
Sementara itu, jika awan telah tumbuh, metode modifikasi cuaca akan menggunakan bahan semai awan untuk mengaktifkan awan dan memicu hujan. Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi dampak sebaran debu vulkanik terhadap wilayah yang terdampak, termasuk Jakarta.
Pelaksanaan Operasi di Lapangan
Pelaksanaan modifikasi cuaca tidak dilakukan dari Jakarta, melainkan dari posko di Semarang dan Kertajati dengan dukungan pesawat yang didatangkan dari Kalimantan. Seto menegaskan bahwa efektivitas operasi tersebut tetap bergantung pada kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau. Apabila terjadi letusan baru yang kembali menyemburkan material vulkanik, upaya mengurangi debu yang telah tersebar akan menghadapi tantangan tambahan.
BMKG berharap dengan langkah ini, debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dapat segera diatasi dalam waktu yang lebih cepat dan efisien.












