Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menjadi perbincangan di media sosial setelah membagikan video pada Jumat pagi, 10 April 2026. Video tersebut menunjukkan tudingan terhadap tentara Israel yang disebut telah menyiksa seorang anak Palestina dan melemparkannya dari atas bangunan. Dalam unggahan di platform media sosial, Lee menekankan pentingnya memastikan keaslian video tersebut dan menyelidiki tindakan yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh. Dia menyatakan bahwa tuduhan tersebut sangat serius dan perlu diklarifikasi.
Unggahan tersebut juga menyoroti isu perempuan penghibur yang terjadi selama pendudukan Jepang di Semenanjung Korea. Video pertama kali diunggah oleh seorang pengguna dengan keterangan yang menyebutkan bahwa tentara IDF telah melakukan tindakan tersebut pada September 2024. Menanggapi hal ini, Lee menyatakan bahwa hukum humaniter internasional harus ditegakkan dan martabat manusia harus dijaga sebagai nilai utama yang tidak bisa ditawar.
Lee juga memberikan informasi bahwa korban dalam insiden tersebut adalah jenazah, bukan orang yang masih hidup, dan menggambarkannya sebagai sedikit bentuk belas kasihan. Meskipun demikian, dia menekankan bahwa tindakan tersebut tetap merupakan pelanggaran hukum internasional. Lee mengingatkan pentingnya memperlakukan jenazah dengan layak, bahkan dalam situasi seperti ini. Video yang dibagikan oleh presiden Korea Selatan ini telah menarik perhatian publik dan memicu diskusi yang luas di berbagai platform sosial.










