Fenomena sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, semakin menarik perhatian setelah tim peneliti Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan indikasi kuat adanya sungai bawah tanah di sekitar lokasi. Ahli geologi teknik Badan Geologi, Taufiq Wira Buana, mengungkapkan bahwa temuan ini merupakan salah satu dari 11 indikasi gejala sinkhole tipe Situjuah yang muncul pada 4 Januari 2026. Meski demikian, Badan Geologi mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menganggap semua tanda tersebut berbahaya.
Selain adanya indikasi aliran sungai bawah tanah, tim peneliti juga menemukan batuan berwarna krem yang dikenal sebagai tuf lapili, material vulkanik yang menunjukkan kemungkinan terjadinya erosi internal atau soil piping di bawah permukaan tanah. Dugaan keberadaan sungai bawah tanah masih akan dipelajari lebih lanjut, termasuk penyebab terbentuknya saluran air tersebut dan kaitannya dengan munculnya sinkhole. Dalam proses penelitian, tim mengambil sejumlah sampel untuk diuji mulai dari kualitas air hingga karakteristik tuf lapili. Hasil sementara menunjukkan tingkat keasaman air berada di angka pH 5,6 atau sedikit di bawah netral.
Badan Geologi kini sedang mendalami keterkaitan antara mata air yang diteliti, aliran sungai bawah tanah, serta kemunculan sinkhole Situjuah, guna memastikan potensi risiko sekaligus memahami proses geologi yang terjadi di wilayah tersebut. Tragedi gerakan tanah yang menimbun 30 hektare lahan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, pun turut diungkap oleh Badan Geologi sebagai hasil dari kombinasi geologi purba dan air tanah yang jenuh.












