Pengelola Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Nanas di Jakarta Timur mengakui bahwa keterbatasan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu alasan lemahnya pengawasan di area rawan di pemakaman tersebut. Ketua Pengelola TPU, Muhaimin, menyatakan bahwa petugas yang hanya dua personel dalam 24 jam harus berkonsentrasi pada pelayanan, mengatur lalu lintas, dan mengurus pemakaman. Permintaan makam yang tinggi membuat petugas harus membagi tugas secara proporsional. Selain itu, kurangnya petugas juga menjadi sasaran oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan pencurian aksesoris makam dan material pagar besi di area pemakaman.
Kejadian aksi mesum yang viral di media sosial pada Minggu (27/7) kemarin terjadi di area pinggir pemakaman Kebon Nanas yang berbatasan langsung dengan aliran kali. Pihak pengelola mengakui bahwa wilayah tersebut memang rentan karena sekitar 200 rumah liar berdiri di sekitar bantaran kali. Upaya penertiban terus dilakukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan dan memastikan tidak adanya bangunan liar baru yang dapat memicu aktivitas menyimpang.
Video viral pasangan muda-mudi yang melakukan perilaku tidak senonoh di area pemakaman Kebon Nanas memicu keresahan warga sekitar. Kejadian tersebut terjadi di blad 17, salah satu area yang sedang dikembangkan sebagai lahan baru. Luasnya wilayah pemakaman yang mencapai sekitar 17 hektare membuat pengawasan di area tersebut belum optimal. Upaya peningkatan pengawasan terus dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di TPU Kebon Nanas.












