Prabowo Subianto’s Self-Sufficiency Economic Policies: Promising Insights

Prabowo Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Devisa Ekspor, Bank Emas, dan Danantara

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menempatkan kemandirian ekonomi sebagai poros utama kebijakan pemerintahannya. Dalam sejumlah langkah yang diumumkan dan diresmikan pada Februari 2025, pemerintah menggarisbawahi upaya memperkuat cadangan nasional, memperbesar nilai tambah di dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan pada pembiayaan luar negeri.

Devisa ekspor wajib tinggal di Indonesia

Salah satu langkah yang paling menonjol adalah kebijakan Devisa Hasil Ekspor Baru. Prabowo menegaskan, devisa hasil ekspor harus disimpan 100 persen di Indonesia selama 12 bulan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 yang ia teken pada 17 Februari 2025.

Kebijakan ini, menurut Prabowo, diarahkan untuk memperkuat posisi ekonomi nasional dan mendorong agar hasil ekspor memberi dampak lebih besar bagi pembangunan di dalam negeri. Pemerintah meyakini, penahanan devisa di dalam negeri akan membuat ruang gerak ekonomi lebih luas dan pada saat yang sama berpotensi meningkatkan kinerja ekspor Indonesia secara signifikan.

Danantara dan dorongan investasi industri

Prabowo juga memperkenalkan Danantara Indonesia, singkatan dari Daya Anagata Nusantara, pada 24 Februari 2025. Dana investasi ini diproyeksikan menjadi mesin baru untuk mempercepat pembangunan industri di Tanah Air, dengan total aset di bawah pengelolaan mencapai US$900 miliar.

Melalui skema ini, pemerintah ingin memastikan modal besar yang dikelola negara dapat diarahkan ke sektor-sektor produktif. Dalam kerangka itu, Danantara diposisikan bukan sekadar sebagai instrumen investasi, melainkan juga sebagai alat untuk memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang.

Bank emas pertama dan ekosistem logam mulia

Sehari setelahnya, pada 26 Februari, Presiden meresmikan layanan bank emas pertama di Indonesia. Peluncuran ini dilakukan di Menara Gade, Kantor Pusat Pegadaian, bersamaan dengan Pelantikan Pegadaian Gold Bank dan Bank Layanan Syariah Indonesia.

Prabowo menyebut bank emas sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem layanan emas nasional. Kehadirannya diharapkan mendorong pengolahan emas di dalam negeri, menghemat devisa, serta membantu menjaga stabilitas moneter melalui likuiditas emas. Di tengah produksi emas Indonesia yang meningkat dari 100 ton menjadi 160 ton per tahun, pemerintah menilai kebutuhan untuk memperkuat pengelolaan cadangan emas negara menjadi semakin mendesak.

Dengan hadirnya bank emas pertama di Indonesia, pemerintah berharap masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk menabung emas, sementara negara dapat memaksimalkan potensi cadangan yang selama ini belum sepenuhnya terkelola dalam satu ekosistem yang utuh. Langkah-langkah ini memperlihatkan arah kebijakan ekonomi Prabowo yang bertumpu pada satu pesan: kekuatan nasional harus dibangun dari dalam, bukan bergantung pada luar.

Source link