JAKARTA — Penanganan Papua kembali mengingatkan bahwa kerja intelijen tidak cukup hanya mengandalkan perangkat teknis, peta operasi, atau kekuatan lapangan. Di wilayah yang memiliki keragaman adat, bahasa, dan struktur sosial yang kuat, pendekatan budaya justru kerap menentukan apakah sebuah langkah diterima atau ditolak oleh masyarakat.
Budaya sebagai kunci membaca Papua
Dalam konteks itu, Nofra Sella, peneliti Center for International Relations Studies Universitas Indonesia, menilai intelijen berbasis budaya perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam operasi di Papua. Menurut dia, pemahaman atas norma, nilai, dan cara hidup masyarakat setempat bukan sekadar pelengkap, melainkan dasar agar operasi berjalan lebih efektif dan tidak menimbulkan jarak dengan warga.
“Operasi intelijen di Papua tidak boleh hanya bergantung pada kemampuan teknis atau militer, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan menghormati norma-norma budaya yang dianut oleh masyarakat lokal,” kata Nofra melalui ponsel, Minggu (29/9/2024).
Teknis belum cukup untuk hadapi konflik yang kompleks
Papua selama ini menjadi salah satu wilayah dengan persoalan keamanan yang rumit, termasuk aktivitas Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kelompok ini telah beroperasi sejak 1960-an dan kini berkembang menjadi sejumlah faksi dengan kepemimpinan serta wilayah kerja yang berbeda. Selain melakukan aksi bersenjata, OPM juga memanfaatkan propaganda untuk menjangkau sasaran di dalam dan luar negeri.
Menurut Nofra, situasi seperti itu menuntut aparat intelijen untuk lebih peka terhadap konteks sosial di lapangan. Ia menekankan bahwa pemimpin badan intelijen maupun agen lapangan perlu memiliki keterampilan budaya yang memadai agar strategi yang disusun tidak bertabrakan dengan kebiasaan dan struktur sosial masyarakat Papua.
“Di Papua, aspek budaya sangat penting, karena masyarakat di sana memiliki cara hidup dan perspektif yang berbeda dari wilayah lain di Indonesia,” ujarnya.
Pelibatan tokoh lokal pernah memberi hasil
Pemerintah Indonesia sendiri telah menempuh berbagai cara untuk meredam masalah di Papua, mulai dari penguatan kehadiran aparat keamanan hingga pendekatan yang lebih lunak lewat pembangunan dan penguatan tata kelola pemerintahan daerah. Namun, langkah-langkah itu belum sepenuhnya menghentikan aktivitas OPM secara permanen.
Dalam sejumlah pengalaman penanganan sebelumnya, pendekatan kultural disebut pernah memainkan peran penting. Salah satunya pada upaya pembebasan pilot, yang dinilai tak lepas dari pelibatan pihak-pihak sentral di masyarakat Papua. Bagi Nofra, pengalaman itu menunjukkan bahwa operasi di Papua lebih efektif ketika tidak berdiri semata di atas logika keamanan, melainkan juga menghormati relasi sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan karakter Papua yang khas, pendekatan berbasis budaya bukan lagi opsi tambahan. Di lapangan, justru sentuhan manusia itulah yang kerap membuka ruang dialog, membangun kepercayaan, dan mengurangi risiko salah baca terhadap situasi yang berkembang.
Sumber: https://jabar.tribunnews.com/2024/09/29/peran-pendekatan-budaya-dalam-operasi-intelijen-papua-nofra-sella-jangan-sekedar-andalkan-teknis
Source link












